Ketika berbicara tentang pendidikan di Indonesia, apa yang terlintas dalam benak kita semua? Mahal, tidak tepat sasaran, tidak merata, tidak transparan mungkin adalah sedikit dari setumpuk opini negatif kita selama ini. Mungkin benar tapi tidak selamanya benar. Dan kalau kita telaah lagi lebih dalam banyak dari kita yang hanya bisa bertanya -atau bisa disebut menuntut- kenapa begini atau mengapa begitu tanpa berbuat apa-apa untuk kemajuan pendidikan. Padahal kita tahu setiap tahunnya ada ratusan bahkan ribuan siswa yang lulus dari SMA. Lalu akan kemana mereka? Ada beberapa opsi jawaban. Mencari kerja dengan mengandalkan ijazah SMA, kuliah bagi yang memiliki dana lebih, atau pasrah alias tanpa pekerjaan. Dan bisa jadi opsi terakhir yang banyak terjadi.
Lalu dimana posisi kita? Ada banyak tempat sebenarnya. Jika kita mau, banyak “lahan” yang bisa digarap mengingat jumlah pemuda yang membludak, masih minimnya skill yang dimiliki putra daerah dan potensi daerah yang belum tereksplor.
Karena itu, saat aku tahu bahwa visi dan misi dari Community College(CC) di Amerika yang mengarah pada potensi daerah dengan putra daerah sebagai subjeknya, aku mengerti mengapa Indonesia mengadopsi konsepnya kemudian mencoba menerapkannya di daerah. Mungkin sedikit orang yang tahu apa itu Community College. Karena itu, sedikit penjelasan dibawah ini mungkin bisa menggambarkan sekilas tentang keadaan community college di Indonesia dan perbandingannya dengan College di Amerika.
Dari sekitar 247 CC se Indonesia, Jawa Timur dianggap paling berhasil dalam mengelola CC dalam usia yang masih muda(kurang dari 10 tahun). Karena itu, CC di jawa Timur aku jadikan sample dalam pembicaraan ini. CC dikelola oleh SMK yang bisa disebut sebagai SMK besar.Ini memungkinkan untuk pemenuhan fasilitas baik alat maupun tenaga pengajar. Namun layaknya mata uang yang memiliki 2 sisi berbeda, maka ada sisi buruk dari “menempelnya” CC pada SMK yaitu pada manajemen yang juga ikut menempel. Dari direktur sampai dosen pengajar,semua adalah tenaga milik SMK. Sehingga fokus menjadi terpecah sedangkan masyarakat sulit membedakan mana SMK dan mana CC. Ini memperlambat perkembangan CC. Sehingga putra daerah banyak yang memilih ke luar dari daerah untuk mendapatkan pendidikan dan selanjutnya potensi daerah sulit dikembangkan.
Mari kita bandingkan dengan CC di Amerika. Dengan mimpi ingin mengembangkan daerah dengan tenaga terampil dari putra daerah, mereka mendirikan CC, pendidikan dua tahun yang memberikan skill yang cukup bagi mahasiswanya. Ada 3 orientasi yang berbeda dari mahasiswa sehingga pihak CC juga menerapkan kurikulum yang berbeda.
Pertama, mahasiswa yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi-selanjutnya disebut mahasiswa full time-akan mendapatkan kurikulum yang sudah disetarakan dengan kurikulum untuk pendidikan 2 tahun pertama di universitas. Sehingga saat lulus, mereka bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dalam hal ini pihak CC bekerjasama dengan universitas.
Kedua, mahasiswa yang mengambil mata kuliah untuk mendapatkan pekerjaan. kurikulum akan disesuaikan dengan spesialisasi pekerjaan yang akan mereka hadapi. Hanya mengambil sedikit kelas.
Ketiga adalah peserta training. Ini biasanya dikirim oleh perusahaan tertentu yang ingin meningkatkan skill karyawannya. Waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan ini tidaklah sama dengan mahasiswa fulltime. Semisal training untuk sopir truk atau mobil pengangkut barang, mereka hanya butuh waktu 4 minggu untuk menyelesaikan pendidikannya. Pihak CC bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.
Dalam membuka sebuah jurusan, diadakan terlebih dahulu survey apakah jurusan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak. jika dibutuhkan maka akan segera dibuat kurikulum.
Ada juga pendidikan untuk siswa dari high school baik junior maupun senior yang ingin mengambil credit di CC. Ini menguntungkan mereka karena pendidikan yang mereka tempuh selama setahun akan diakui saat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Responsibility, adalah kunci keakraban dan solidnya orang-orang dalam CC. Ini juga yang membuat mahasiswa Internasional – aku contohnya- merasa nyaman di sini. Adanya dorm dan fasilitas olahraga yang lengkap merupakan faktor lain yang mendukung.
Bantuan yang didapat tiap CC tidaklah sama tergantung dari seberapa luas daerah mereka.Namun yang pasti mereka mendapatkan bantuan baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Ada juga donasi dari perorangan yang “imbalannya” berupa pemakaian namanya sebagai nama dari gedung yang dibangun dengan bantuan tersebut.
Inilah sekilas tentang CC di Amerika. Dengan segala keterbatasan ilmu kita dan perbedaan kultur budaya, apakah kita bisa mengubah opini negatif kita tentang negeri kita sendiri? Dengan gambaran di atas, apakah kita malah berkecil hati dan mundur atau malah berpikir bahwa inilah saatnya melangkah membangun daerah? jawab dengan hati nuranimu.